Skip to main content

Harga Naik, Petani Karet di Benteng Resah Akibat Hujan Deras

Salah satu kebun karet milik warga Desa Lubuk Pendam, Kecamatan Pagar Jati, Foto: Burhasin/Siberbengkulu.co

 

Bengkulu Tengah, Siberbengkulu.co -- Para petani karet di Kabupaten Bengkulu Tengah, khususnya di Desa Lubuk Pendam, Kecamatan Pagar Jati, tengah menghadapi keresahan akibat curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut. Selama hampir dua minggu terakhir, aktivitas penyadapan karet terhenti karena batang karet basah dan getah karet bercampur air, mengurangi kualitas hasil panen.  

Atek (55), salah seorang petani karet setempat, mengungkapkan kegelisahannya. "Sudah hampir dua minggu tidak bisa menyadap. Kadang percuma, pagi nyadap, siang hujan, getahnya bercampur air," ujarnya.  

Ironisnya, kondisi ini terjadi saat harga getah karet mulai mengalami kenaikan, mencapai Rp 11 ribu per kilogram. 

"Harga sudah mulai naik, tapi percuma kalau musim hujan terus. Tidak bisa menyadap," keluh Atek.  

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan diperkirakan berlangsung hingga awal Januari 2025. Jika perkiraan tersebut benar, para petani terancam tidak bisa bekerja maksimal selama lebih dari dua bulan ke depan.  

"Kalau memang sampai Januari, kami hanya bisa berharap tidak hujan setiap hari. Sekarang saja sempat sehari menyadap karet dalam seminggu," tutup Atek.  

Hujan deras yang terus mengguyur tak hanya memengaruhi hasil panen, tetapi juga mengancam perekonomian para petani karet di wilayah tersebut. Mereka berharap cuaca segera membaik agar bisa kembali bekerja dan memanfaatkan kenaikan harga getah karet.

 

Reporter: Burhasin 

Editor: M Ichfan Widodo 

Baca juga ...