Skip to main content

Cobain Lemang - Tapai Ala Orang Bengkulu di Jalan Sungai Rupat

Proses memasak Lemang, Foto: Mita/Siberbengkulu.co

Ragam, Siberbengkulu.co -- Lemang adalah makanan khas masyarakat Melayu yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang. 

Lemang biasanya disajikan saat hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, atau upacara adat, seperti perkawinan. Lemang juga merupakan salah satu kekayaan tradisi kuliner di Indonesia. 

Lemang memiliki filosofi yang menarik, yaitu proses memasaknya yang memakan waktu lama diibaratkan sebagai jalan kehidupan manusia. Masyarakat setempat percaya bahwa untuk menjadi orang yang bahagia, kita semua butuh waktu dan proses yang tidak mudah

Bahan baku yang digunakan untuk membuat Lemang ini tergolong sederhana yakni bambu, daun pisang muda, beras ketan atau pulut, santan kelapa, dan rempah rempah seperti garam, bawang dan lain lain.

Cara pengolahannya yakni sediakan bambu yang sudah dibersihkan, kemudian dimasukkan daun pisang muda dalam bambu tersebut, lalu dimasukkan beras ketan atau pulut kemudian ditambah santan kelapa dan ditambah rempah, lalu dibakar kurang lebih empat jam.

"Yang membuat Lemang di Bengkulu ini beda dari lemang lainnya adalah rasanya lebih gurih karena menggunakan kualitas santan kelapa yang bagus dan tentunya bambu yang digunakan adalah bambu khusus yakni yang memiliki ruas panjang," ujar dia.

Jalan sungai Rupat ini juga terkenal lokasi penjualan kuliner khas Bengkulu yaitu Lemang-Tapai dan jika kita coba berjalan memang banyak tempat penjualannya berupa  pondok-pondok yang satu dengan yang lainnya tidak seberapa jauh jaraknya. 

Kuliner khas Lemang-Tapai ini biasanya dijual mulai dari pagi sampai dengan sore hari dan para penjualnya kebanyakan ibu-ibu.

Harga jualnya juga cukup bersahabat, dengan uang Rp. 10.000-, saja kita. telah dapat menikmati Lemang beberapa potong kecil dan semangkok kecil  tapai dan jangan terlalu pagi ke tempat ini,  khawatir belum ada yang jualan, kita boleh jalan-jalan dahulu, sembari menunggu pedagang. 

 

Reporter: Rahmita Dwi Kurnia 

Editor: M Ichfan Widodo 

Baca juga ...